Rabu, 10 Februari 2010

SEVEN DAYS LOVE part 3

Seorang wanita. Wanita itu berlari ke arahnya dan memberikannya sesuatu yang sepertinya tidak sengaja tertinggal oleh  Jung Soo. Bukan hanya barang yang di berikan wanita itu, tapi sebuah kecupan manis juga diberikannya di pipi Jung Soo.
Air mataku tiba-tiba terjatuh. Aku langsung menghapusnya. kenapa air mataku bisa jatuh dengan sendirinya? Aku bahkan tak kenal siapa Jung Soo dan wanita itu. Mungkin itu hanya saudara perempuannya. Atau mungkin, itu kekasihnya. Ohh, kalaupun itu benar kekasihnya, lantas itupun tak ada hubungannya denganku.

Kakiku terasa sangat lemah. Tapi tiba-tiba terasa seperti ada sengatan yang membuatku sadar.

“Hyun Soo!!!!” Jung Soo memanggilku dari bawah. “apa kau baru bangun dari tidurmu? Apa tidurmu nyenyak? Kau memimpikan aku?”

Haaa?? Kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu? Aku yang jelas masih bingung dengan apa yang ditanyakannya, hanya mengangguk dan menjawab lirih “ah.. ya.. ya.. ya..”

“baiklah, aku akan menemuimu nanti jika urusanku sudah selesai. Tunggu aku ya.”
Jung soo kembali melanjutkan perjalanannya.
Aku kembali ke dalam dan aku baru ingat, aku merencanakan pergi ke mini market. Aku segera mandi untuk bersiap menghadapi kota Seoul hari ini.


###


Aku mengunci pintu dan menyimpannya di tasku. Bersiap untuk berpetualang hari ini. Hmm.. aku akan ke mini market terlebih dahulu. Tetapi, aku tak tahu dimana ada mini market. “ah, eonni dimana mini market terdekat dari sini?”
“lurus saja lalu belok ke arah kanan.. kau akan menemui mini market disana.”
“ne.. kamsahamnida eonni… annyeong hasimnikka..”
Aku berjalan sesuai arah yang di beritahukan eonni tadi, dan aku tiba di mini market. Aku masuk dan mulai mencari voucher isi ulang pulsa juga tak lupa makanan kecil untuk persiapanku di hotel. Setelah mendapatkan semuayang aku inginkan, aku pergi ke kasir untuk membayar ini semua. Tapi, sepertinya di kasir ada sedikit insiden kecil.
“aku tidak mau yang ini! Aku ingin yang rasa cokelat saja. Kan kita di tugaskan untuk membeli yang cokelat..kenapa kau memilih yang itu?” seorang wanita berkata pada seseorang disampingnya itu.
“tetapi ini lebih enak rasanya.. aku jamin ini lebih enak..”
Oh! Ternyata yang di sisi wanita itu adalah seorang lelaki. Aku kira ia seorang wanita karena rambutnya yang panjang sebahu dan menggunakan t-shirt berwarna merah muda.
“ayolah.... chocopie  yang ini terlihat lebih baik..”
“baiklah…aku mengalah..chocopie yang itu saja..” lelaki itu menyerah dan menurut apa yang disarankan wanita lalu membayar apa yang tadi mereka bilang “chocopie” itu.
Aku langsung menuju kasir setelah dua orang yang berselisih paham itu keluar dari mini market.
“totalnya 16.280 won nona..”
Aku mengeluarkan dompetku dan aku menghitung uang won yang ada di dompetku. Hanya 15.100 won? Aku lupa untuk menukarkan dollarku ke dalam bentuk won. Kemarin aku hanya menukarkan sedikit. Dan itu sudah terpakai untuk berkeliling kota Seoul kemarin.
“hm… mianhamnida.. uang ku sepertinya kurang. Aku akan mengambil dan menukarkan uang dollarku terlebih dahulu..”
Saat aku berbalik,

BRUKKK!!!!

Aku menabrak seseorang.
“mianhamnidaa.. mian.. mianhae..”aku meminta maaf sambil membungkukkan badanku.
“ne.. apa kau tidak apa-apa?” ternyata seorang lelaki. Dan ia tampan sekali. dia memegang pundakku untuk membantuku berdiri.
“yaa… aku tidak apa-apa.”
“baiklah..” dia berkata sambil tersenyum dan senyumannya sangat manis sekali. Aku tertegun melihat ketampanannya. Lalu aku melihat seseorang di belakang pria ini.
“Jung Soo???? Apa yang kau lakukan disini?” Jung Soo tak lagi menggunakan masker seperti yang aku lihat tadi pagi.
“Aku hmm.. hmm...”
Aku mengerutkan kening, kenapa Jung Soo terlihat bingung?
“.. ini. Aku ingin membeli ini…” Dia mengambil body lotion yang ada di sampingnya. “…untuk kakakku..” dia tersenyum kecut.
“ohh..” aku berlagak mengerti.
“hyung, aku tinggal sebentar.” Lelaki pemilik senyuman manis itu menepuk pundak Jung Soo dan berlalu meninggalkan kami. Jung Soo melambaikan tangannya sebagai tanda “ya” pada lelaki yang memanggil dirinya hyung.
“kita bertemu lebih cepat dari yang aku inginkan. Sedang apa kau disini?”
“aku ingin membeli makanan ringan, tetapi aku lupa untuk menukar uang dollarku dalam bentuk won. Dan ternyata uang won ku tak sesuai dengan banyaknya makananku.”
“pakai uangku dulu..” dia langsung berjalan ke kasir dan bermaksud untuk membayar makananku.
“tidak perlu Jung Soo..”aku refleks memegang tangannya untuk menghentikannya. Dan.. ah!! apa-apaan ini? Kenapa  jantungku berdegup sangat cepat?? Aku langsung melepaskan genggamanku. “maaf..” aku tertunduk malu karena takut dia melihat pipiku yang mungkin sekarang sudah merona.
“money changer disini cukup jauh dan aku rasa kau sudah merasa lapar se belum kau tiba disana. Pakai uangku saja dulu… tidak perlu sungkan.”
“baiklah...”
“ini..” dia memberikan belanjaanku yang ternyata cukup banyak.
“terimakasih.. aku akan mengembalikan uangmu secepatnya”
“ayo hyung.. yang lain sudah menunggu..” ucap lelaki tadi yang telah kembali.
“ya..kau duluan saja.”
Jung Soo meminta secarik kertas pada petugas mini market itu dan menuliskan sesuatu di atasnya.
“ini, kau bisa menghubungiku ke nomor ini.” Dan membuka telapak tanganku dan meletakkan kertas itu di atasnya. Lalu dia berlari menyusul temannya itu.


###

Sebenarnya tadi perasaanku antara gembira dan terkejut saat Jung Soo memberikanku nomor teleponnya. Aku akan menghubunginya saat aku sudah menukarkan uangku. Ya ampun!! Aku lupa untuk membeli voucher isi ulang. Ah! kenapa aku bisa melupakannya! Di mini market tadi tidak ada voucher itu, dan aku berencana mencarinya saat aku kembali dari sana. Tetapi aku sudah tiba di hotel saat aku mengingatnya. Ahh.. malas rasanya untuk keluar lagi.
Tapi apa boleh buat, pulsa di handphone ku sudah benar-benar habis dan aku harus menghubungi Dila dan Jung Soo. Yah, sudahlah. Nanti saja sehabis makan siang aku baru akan mencarinya.
Aku saat ini benar-benar lapar dan ingin mengisi perutku yang tidak ku isi sejak tadi pagi. Aku memasak fried rice dengan bumbu instan yang kubeli. Setelah aku menghabiskan nasi goreng buatanku itu, sayangnya aku masih merasa lapar.Aku membuka makanan yang tadi aku beli dan memakannya. Hmm..chiki ini enak jugaa.
“ting nunggg… ting nunggg..”
Bel hotel berbunyi. Siapa ya? Aku berjalan menuju pintu dan membuka pintu itu.
 “ahjussi.. ada apa?”
“ini ada kiriman dari seseorang. Tapi tidak ada nama pengirimnya.”
Hh? Sebuah amplop.
“ne.. kamsahamnida..”
Aku berjalan masuk sambil membuka apa isi amplop ini. Sebuah tiket, kurasa. Disini dituliskan “mini concert” dan akan dilaksanakan besok di Waffle Café pukul 19.00 KST. Sebenarnya apa ini? Apa pengirim ini salah alamat? Apa dia tidak tahu aku bukan orang korea dan tidak tertarik pada konser seperti ini. Ahh.. masa bodoh, aku tak tertarik.
Oh ya.. aku harus pergi membeli pulsa untuk mengisi nomor koreaku. Sekaligus menukarkan uangku.

###

Pulsaku telah terisi, berarti aku harus segera menghubungi Jung Soo, untuk mengembalikan uangnya tadi. Aku menekan nomor yang di berikan Jung Soo tadi. Terdengar nada sambung..
Tuuut… tuuuttt.. tuuuuttt…
Kenapa tidak diangkat? Akan ku coba lagi..
Tuuut… tuuuttt.. tuuuuttt…
Tak juga diangkat. Mungkin dia sedang di luar rumah dan ponselnya tertinggal. Kalau begitu aku akan menelpon Dila saja.
Tuuut… tuuuttt
“yeoboseo..”
“halo.. dila.. ini aku Hyun Soo..”
“ahh.. kau.. kenapa nomormu ganti? Inikan nomor Korea..”
“ya.. nomor asliku tidak ada pulsanya, jadi aku beli nomor korea saja.”
“oh begitu.. hey, kau sudah kemana saja sejak kedatanganmu di korea?”
“aku sudah ke Seoul Museum of Arts, Insadong, dan sungai hangang. Baru itu saja.”
“Apa kau tidak akan berkunjung ke rumahku?”
“ah.. tentu saja aku akan berkunjung ke rumahmu. Tetapi aku tidak tahu dimana rumahmu.”
“itu hal mudah, aku akan menjemputmu. Beritahu dimana kau sekarang tinggal dan aku akan menjemputmu.”
“baiklah. Kapan?”
“kapan saja kau punya waktu luang. Hari ini aku tidak ada kegiatan apapun. Jika kau hari ini tak ada kegiatan, aku akan menjeputmu.”
“tidak, aku tak ada kegiatan. Aku tunggu jam 4 di Yims House Hotel tempatku menginap.”

###

Bel berbunyi, itu berarti Dila sudah tiba. Aku berjalan ke pintu dan melihat Dila berada di balik pintu. Aku segera membuka pintu.
“annyeonghaseyo, chingu.. jeonen Dila imnida..” Dila berkata sambil membungkukkan badannya.
“annyeonghaseyoo..” aku merentangkan kedua tanganku untuk mempersilahkannya memeluk tubuhku. Ini pertemuanku yang pertama kalinya, sejak kami terpisah hampir dua tahun belakangan ini.
“aku sangat merindukanmu” Dila berkata dalam pelukanku.
“ya, aku juga sangat rindu padamu. Ayo, masuk. Aku akan mengambil tasku dulu.”
“bagaimana kalau kau menetap semalam dirumahku? Banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Aku yakin kau juga pasti banyak menyimpan cerita selama kau di Singapore.”
“untuk sahabatku, baiklah.. aku akan menetap semalam di rumahmu.”
Setelah aku selesai menyiapkan perlengkapanku, kami berangkat ke rumah Dila yang katanya masih di pusat kota Seoul.

###

Aku tiba di rumah Dila. Rumahnya unik, bergaya rumah Korea yang tak ku tahu namanya. Gerbangnya dari kayu, dan tertutup rapat. Begitu aku masuk, aku melihat rumah yang benar-benar berbau tradisional seperti yang kulihat di TV pagi ini. Hampir mirip seperti rumah bergaya Jepang.
Dila langsung menyuruhku meletakkan tas ku di kamarnya. Kamarnya kecil dan nyaman, ada beberapa rak yang menyimpan berbagai buku dan kaset disudutnya. Dila membawa minuman ke kamarnya.
“ini, aku bawakan teh hangat.”
“terimakasih, maaf merepotkanmu..”
“tak perlu sungkan, aku ini kan sahabatmu. Hal seperti ini tidak membuatku repot. Akan jadi merepotkan jika kau tidak ingin kembali ke Singapore.. hehehe”
Aku bercerita panjang lebar tentang apa yang ku alami di Singapore selama ini. Begitupun Dila, dia juga bercerita panjang lebar tentang Korea. Negara yang ternyata menarik. Banyak hal yang ternyata tidak ku ketahui.
Tetapi sejauh ini, aku masih nyaman untuk menetap di Singapore. Selain karena kuliahku, Singapore juga nyaman dan bersih. Dan lagi, dekat dengan Indonesia jadi jika aku rindu keluargaku, aku tak perlu berlama-lama dalam perjalanan.
Aku melihat sesuatu di atas rak buku Dila.
“kau juga mendapatkannya?”
“aku mendapatkannya dengan susah payah. Itu tiket masuk sebuah mini konser. Boy band yang kusukai akan tampil di acara itu.”
“susah payah? Aku mendapatkannya tadi siang dan sepertinya ada yang salah kirim ke alamat hotelku. Karena sebenarnya aku tidak tahu acara apa itu.”
“kau mendapatkannya dengan cuma-cuma??? Aku susah payah mengikuti kuis diadakan majalah dan internet yang membagikan 100 tiket gratis itu.. bagaimana kau bisa mendapatkannya?”
“aku tidak tahu. Tiba-tiba ada yang mengantarnya ke kamar hotelku.”
“kalau begitu, kau harus menemaniku menonton mini konser ini. Harus!!”
“tapi aku tidak tertarik dengan lagu korea.”
“bagaimana kau bisa tidak tertarik jika kau belum mendengar lagu-lagu korea?”
“baiklah.. tapi kau harus menemaniku jalan-jalan berkeliling Seoul. Atau bahkan keliling korea?”
“tidak masalah. Aku akan membawamu berkeliling ke tempat yang menakjubkan. Kapan?”
“besok saja, sebelum kita menonton konser itu. Tapi sebelumnya, aku harus mengambil tiket itu di hotel dan menukar uangku dulu. Simpanan Won ku habis.”
“mm hm..” Dila menjawab sambil mengangguk.
Sisa hari itu kami habiskan dengan memasak masakan khas Korea. Kimchi, bibimbap, dan dua masakan lain yang aku tak hafal namanya.
Celaka.. Rasanya aku mulai merasa nyaman berada di Korea.

###

Kami sudah berkeliling kota Seoul pagi ini. Dila mengajakku ke berbagai tempat yang benar-benar menakjubkan.  Dari mulai tempat bersejarah hingga tempat rekreasi yang sangat indah dan membuatku sangat menikmatinya. Aku tidak akan melupakan hari ini bersama Dila. Akan menjadi hari terindah selama aku di Seoul.
Matahari bersinar terik  dan sudah berada di atas kepala kami, tetapi panasnya tak terasa di kulitku dibandingkan aku berada di Singapore apalagi Jakarta.
“aku lapar, Dila... dimana tempat makan yang enak menurutmu? Bawa aku kesana..”
“baiklah tuan putri.. aku akan membawamu ke sebuah restoran kecil yang baru dibuka dan masakannya aku jamin, lezat..” Dila mengacungkan ibu jarinya.
“ayoo…!!”

###

Kami sudah selesai makan dan waktu sudah menunjukkan pukul 12.54.
“tuan putri, waktumu telah habis. sekarang giliranku yang menjadi tuan putri.. sekarang kau yang menuruti kemana aku akan pergi. setuju?”
“oke.. baiklah..” aku berkata dengan senang hati.
Kami langsung menuju café dimana mini konser itu diadakan. Kata Dila, satu jam sebelum pertunjukkan, pasti sudah ramai. Maka dari itu kami langsung menuju Waffle Café.
Ternyata benar apa yang dikatakan Dila. Pintu masuk Café ini sudah tak tampak karena orang yang rata-rata remaja wanita bergerumul di depan pintu. Mungkin mereka tidak mendapatkan tiket. Wah? Semeriah inikah mini konser ini, sampai-sampai banyak yang tidak kedapatan tiket? Beruntunglah diriku.

Dua jam sudah aku berada di Café ini tanpa ada rasa bosan. Padahal awalnya aku tidak tertarik pada lagu-lagu korea ataupun mini konser ini. Tapi nyatanya, aku cukup menikmati lagu-lagu yang dilantunkan para penyanyi.
“Hyun Soo, aku ke toilet dulu..”
“ya..”
Dua jam? berarti acara puncak akan segera terlaksana. MC menutup acara dan mempersilahkan Guest Star untuk tampil. -Haha.. tak ada bedanya, rata-rata di setiap acara, Guest Star di munculkan di akhir agar penonton tetap berada di tempatnya masing-masing-. Dan para penonton berteriak histeris. Semeriah inikah penonton disini? Dan mereka semua membawa stick bercahaya biru.
Di panggung itu muncul Guest Star yang dipanggil sang MC. Satu persatu mereka keluar. Apa? Banyak sekali mereka.
“satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, duabelas, tiga belas.. tiga belas??? Aku baru tahu kalau bitang tamunya sebanyak ini.”
“wahh.. mereka sudah di panggung? Untung aku tidak terlambat.” Dila sudah kembali dari toilet.
“mereka semua bernyanyi? Dalam satu group??”
“ya.. itu super junior. Boy band yang sangat aku kagumi. Boy band yang lagunya aku masukkan ke dalam ipodmu dua tahun lalu. Sekarang mereka sudah menjadi bintang yang bersinar di korea.”
“wah.. apa kau hafal semua nama mereka?”
“ya.. dari kiri ke kanan. Heechul, siwon, yesung, hankyung, kangin, kibum, eunhyuk, kyuhyun, sungmin, leeteuk, ryeowook, shindong, donghae..”
Mereka mulai bernyanyi sambil duduk di tigabelas kursi yang di sediakan. Dan teriakan dari mereka yang mebawa lampu stick riuh terdengar.
Eh? Lelaki itu mirip Jung Soo.. itu.. lelaki yang berada di tempat ke empat dari kanan. Benar-benar mirip.. persis.. aku mengenal senyumnya.. aku mengenal lesung pipinya.. aku mengenal suaranya.. tapi benarkah itu Jung Soo? Mana mungkin dia berada disana. Mereka kan artis, sedangkan Jung Soo.. seorang lelaki biasa. Biasa? Sebenarnya aku tidak tahu. Aku yang tidak tahu, atau aku yang sedang berkhayal tentangnya sekarang. Aku mengusap mataku. Tetapi itu benar-benar Jung Soo. Ah.. mungkin kembarannya.
“Dila, lelaki yang keempat dari kanan siapa tadi?”
“Leeteuk.. dia manis ya??”
Tetapi namanya bukan Jung Soo. Namanya Leeteuk.
“wah.. mereka menyanyikan lagu Believe.. lagu ini yang aku masukkan ke dalam Ipod mu, Hyun Soo.”
Aku masih memperhatikan lelaki yang bernama Leeteuk itu. Dan… HAH!!! Aku membuang mukaku. Dia menatapku.. dia melihatku.. aku mencoba melihatnya juga meskipun aku masih tidak percaya. Pelan-pelan kupalingkan wajahku kembali padanya. Dan dia melambaikan tangannya. Dan tersenyum padaku..
Lagu sudah selesai dinyanyikan dan mereka turun dari panggung. Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.
Jung Soo.. ternyata seorang entertain.. tetapi aku mengenalnya sebagai lelaki yang menolongku dua kali.
Jung Soo.. ternyata memiliki banyak fans.. tetapi yang kutahu, hanya aku yang mengaguminya.
Jung Soo.. ternyata lelaki yang menyanyikan lagu yang tersimpan dalam ipodku selama dua tahun. Tanpa kuketahui sebelumnya…
Tuhan.. aku tidak dapat mempercayai semua ini…

Tidak ada komentar: